02 November 2026 - by Amri

Puasa Tasu'a: Niat dan Kaitannya dengan Puasa Asyura

Puasa Tasu'a: Niat dan Kaitannya dengan Puasa Asyura

Bulan Muharram menjadi salah satu waktu yang istimewa bagi umat Islam. Sebagai bulan pertama dalam kalender Hijriah, Muharram bukan hanya menandai pergantian tahun Islam, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memperbanyak ibadah dan memperbaiki diri.

Di antara amalan yang dianjurkan pada bulan ini adalah puasa sunnah, khususnya puasa Tasu'a dan Asyura.

Mungkin sebagian orang sudah cukup akrab dengan puasa Asyura yang dilaksanakan setiap tanggal 10 Muharram. Namun, tidak sedikit yang masih bertanya tentang puasa Tasu'a. Mengapa puasa ini dilakukan sehari sebelum Asyura? Apakah keduanya harus dikerjakan bersama? Dan bagaimana bacaan niat puasa Tasu'a yang benar?

Pertanyaan tersebut penting untuk dipahami karena puasa Tasu'a memiliki hubungan erat dengan puasa Asyura, baik dari segi waktu pelaksanaan maupun anjuran yang dijelaskan dalam hadis Rasulullah SAW.

Menariknya, kedua puasa ini mengajarkan bahwa ibadah sunnah tidak hanya berkaitan dengan menahan lapar dan haus, tetapi juga menjadi sarana untuk meningkatkan ketakwaan, melatih kesabaran, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Lantas, apa sebenarnya puasa Tasu'a, bagaimana niatnya, dan apa kaitannya dengan puasa Asyura?

Mengenal Puasa Tasu'a dan Waktu Pelaksanaannya

Puasa Tasu'a adalah puasa sunnah yang dilaksanakan pada tanggal 9 Muharram dalam kalender Hijriah.

Nama Tasu'a berasal dari kata Arab yang berkaitan dengan angka sembilan, sesuai dengan tanggal pelaksanaannya.

Puasa ini dianjurkan untuk dikerjakan bersama puasa Asyura yang jatuh pada tanggal 10 Muharram.

Muharram sendiri termasuk salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan dalam Islam. Pada bulan-bulan tersebut, umat Islam dianjurkan untuk semakin menjaga diri dari perbuatan dosa dan memperbanyak amal kebaikan.

Rasulullah SAW juga menjelaskan keutamaan berpuasa pada bulan Muharram.

Dalam hadis riwayat Muslim, beliau bersabda bahwa puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram.

Hadis ini menunjukkan bahwa bulan Muharram merupakan waktu yang baik untuk memperbanyak puasa sunnah.

Meski demikian, puasa Tasu'a tidak wajib dilaksanakan. Seorang Muslim yang mengerjakannya diharapkan memperoleh pahala, sedangkan orang yang tidak melaksanakannya tidak berdosa.

Pelaksanaan puasa Tasu'a pada dasarnya sama seperti puasa sunnah lainnya.

Seseorang menahan diri dari makan, minum, dan segala hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga matahari terbenam, disertai niat beribadah kepada Allah SWT.

Karena tanggal Hijriah dapat berbeda berdasarkan penetapan kalender dan awal bulan, umat Islam sebaiknya memperhatikan informasi resmi mengenai tanggal 9 dan 10 Muharram setiap tahunnya.

Bacaan Niat Puasa Tasu'a dan Artinya

Niat merupakan bagian penting dalam pelaksanaan ibadah puasa.

Dalam Islam, niat pada dasarnya berada di dalam hati. Seseorang yang telah memiliki keinginan dan ketetapan hati untuk berpuasa Tasu'a karena Allah SWT telah berniat.

Melafalkan niat dapat dilakukan sebagai bantuan untuk menghadirkan niat dalam hati, tetapi bukan syarat sah yang harus diucapkan secara lisan.

Berikut salah satu bacaan niat puasa Tasu'a yang umum digunakan.

Bacaan Arab:

نَوَيْتُ صَوْمَ تَاسُوعَاءَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

Bacaan Latin:

Nawaitu shauma Tāsū‘ā'a sunnatan lillāhi ta‘ālā.

Artinya:

"Aku berniat puasa sunnah Tasu'a karena Allah Ta'ala."

Bacaan tersebut dapat digunakan untuk membantu seseorang menghadirkan niat sebelum menjalankan puasa.

Dalam mazhab Syafi'i, niat puasa sunnah dapat dilakukan pada malam hari atau pada siang hari sebelum tergelincir matahari, dengan syarat sejak terbit fajar belum melakukan sesuatu yang membatalkan puasa.

Namun, berniat sejak malam hari tetap menjadi pilihan yang baik agar seseorang dapat mempersiapkan ibadah dengan lebih tenang.

Selain niat, sahur juga dianjurkan karena memiliki keberkahan sebagaimana dijelaskan dalam hadis Rasulullah SAW.

Tidak harus dengan makanan yang banyak. Sahur sederhana yang mencukupi kebutuhan tubuh dapat membantu seseorang menjalankan puasa dengan lebih nyaman.

Mengapa Puasa Tasu'a Dianjurkan Bersama Puasa Asyura?

Hubungan antara puasa Tasu'a dan Asyura memiliki dasar dalam hadis Rasulullah SAW.

Puasa Asyura dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram dan telah dikenal sebagai salah satu puasa sunnah yang memiliki keutamaan besar.

Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa beliau berharap kepada Allah agar puasa Asyura menjadi sebab penghapusan dosa setahun sebelumnya.

Para ulama menjelaskan bahwa penghapusan dosa yang disebutkan dalam keutamaan ibadah sunnah pada umumnya dipahami berkaitan dengan dosa-dosa kecil. Adapun dosa besar memerlukan taubat yang sungguh-sungguh.

Lalu, mengapa puasa Tasu'a dianjurkan pada tanggal 9 Muharram?

Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW menyampaikan bahwa apabila masih hidup hingga tahun berikutnya, beliau akan berpuasa pada hari kesembilan Muharram.

Pernyataan tersebut menjadi dasar anjuran untuk melaksanakan puasa Tasu'a bersama puasa Asyura.

Para ulama menjelaskan bahwa salah satu hikmahnya adalah membedakan praktik puasa umat Islam dari kebiasaan kelompok lain yang juga mengagungkan hari Asyura.

Dengan melaksanakan puasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram, umat Islam mengikuti anjuran yang dijelaskan dalam sunnah.

Meski demikian, penting untuk memahami bahwa puasa Tasu'a bukan pengganti puasa Asyura.

Keduanya merupakan puasa sunnah pada dua hari yang berbeda.

Puasa Tasu'a dilaksanakan pada tanggal 9 Muharram, sedangkan puasa Asyura dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram.

Karena itu, bagi yang memiliki kemampuan dan kesempatan, melaksanakan keduanya merupakan pilihan yang dianjurkan.

Bolehkah Puasa Asyura Tanpa Puasa Tasu'a?

Pertanyaan ini cukup sering muncul, terutama ketika seseorang baru mengetahui anjuran puasa Muharram setelah tanggal 9 berlalu.

Misalnya, seseorang tidak sempat melaksanakan puasa Tasu'a karena lupa, sedang bepergian, atau memiliki keperluan tertentu.

Apakah ia masih boleh berpuasa Asyura pada tanggal 10 Muharram?

Jawabannya, puasa Asyura tetap boleh dilakukan meskipun tidak didahului puasa Tasu'a.

Puasa Asyura merupakan ibadah sunnah yang memiliki keutamaan tersendiri.

Karena itu, seseorang yang hanya mampu melaksanakan puasa pada tanggal 10 Muharram tetap dapat menjalankannya.

Namun, apabila memungkinkan, menggabungkan puasa Tasu'a dan Asyura lebih dianjurkan berdasarkan penjelasan para ulama.

Sebagian ulama juga membahas anjuran berpuasa pada tanggal 10 dan 11 Muharram, atau tanggal 9, 10, dan 11 Muharram.

Akan tetapi, kekuatan dalil untuk setiap susunan hari tersebut tidak sama. Anjuran puasa tanggal 9 dan 10 Muharram memiliki landasan yang lebih kuat melalui hadis sahih.

Hal terpenting adalah tidak menganggap puasa Asyura menjadi tidak sah hanya karena seseorang tidak melaksanakan puasa Tasu'a.

Begitu pula sebaliknya, seseorang yang berpuasa pada tanggal 9 Muharram tetap menjalankan puasa sunnah meskipun tidak dapat melanjutkannya pada tanggal 10.

Dengan memahami ketentuan tersebut, umat Islam dapat menjalankan ibadah sesuai kemampuan tanpa merasa terbebani oleh anggapan yang keliru.

Hikmah Puasa Tasu'a dalam Kehidupan Sehari-hari

Di balik anjuran puasa Tasu'a, terdapat sejumlah pelajaran yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satunya adalah membangun kebiasaan untuk memperbanyak amal kebaikan.

Puasa sunnah mengajarkan seseorang untuk meluangkan waktu dan tenaga dalam menjalankan ibadah meskipun tidak diwajibkan.

Ketika seseorang memilih berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram, ia sedang berusaha menambah kedekatannya kepada Allah SWT melalui amalan yang dianjurkan.

Puasa juga menjadi latihan untuk mengendalikan diri.

Selama berpuasa, seseorang tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga diajak untuk menjaga ucapan, emosi, dan perilakunya.

Kebiasaan tersebut penting karena kesabaran dan pengendalian diri tidak hanya dibutuhkan ketika beribadah, tetapi juga dalam hubungan dengan keluarga, pekerjaan, dan masyarakat.

Selain itu, puasa Tasu'a mengajarkan pentingnya mengikuti tuntunan Rasulullah SAW.

Dalam menjalankan ibadah, niat baik perlu disertai pemahaman mengenai tata cara dan dasar pelaksanaannya.

Dengan mengetahui alasan dianjurkannya puasa Tasu'a, seseorang dapat menjalankannya bukan hanya karena mengikuti kebiasaan masyarakat, tetapi karena memahami nilai ibadah tersebut.

Puasa sunnah juga dapat menjadi kesempatan untuk meningkatkan rasa syukur.

Ketika menahan lapar dan haus selama beberapa jam, seseorang dapat lebih menyadari betapa berharganya makanan dan minuman yang selama ini tersedia.

Kesadaran tersebut dapat mendorong tumbuhnya kepedulian terhadap orang-orang yang mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan pangan.

Melengkapi Puasa Sunnah dengan Kepedulian kepada Sesama

Bulan Muharram tidak hanya menjadi kesempatan untuk memperbanyak puasa, tetapi juga waktu yang baik untuk meningkatkan kepedulian terhadap sesama.

Salah satu bentuk kepedulian yang dapat dilakukan adalah membantu masyarakat yang mengalami kesulitan ekonomi.

Ada keluarga yang membutuhkan bantuan pangan, anak-anak yang mengalami keterbatasan biaya pendidikan, hingga lansia yang memerlukan dukungan kebutuhan sehari-hari.

Melalui sedekah, umat Islam dapat ikut meringankan sebagian kebutuhan tersebut.

Namun, perlu dipahami bahwa sedekah bukan syarat sah puasa Tasu'a maupun Asyura.

Seseorang tidak diwajibkan memberikan sedekah khusus agar puasanya diterima.

Sedekah merupakan amalan tersendiri yang dapat dilakukan kapan saja sesuai kemampuan.

Bagi masyarakat yang ingin berbagi, bantuan dapat diarahkan untuk mendukung kebutuhan anak yatim dan dhuafa.

Misalnya, menyediakan perlengkapan sekolah, membantu kebutuhan makanan bergizi, atau mendukung kegiatan bimbingan belajar.

Di lingkungan Pondok Yatim & Dhuafa, kepedulian terhadap anak-anak dapat diwujudkan melalui dukungan pendidikan, pengasuhan, serta pemenuhan kebutuhan harian.

Bantuan yang diberikan sesuai kebutuhan dapat membantu anak-anak menjalani aktivitas belajar dengan lebih baik.

Dengan demikian, semangat ibadah pada bulan Muharram dapat menjadi pengingat untuk terus memperhatikan keadaan masyarakat sekitar.

Tidak harus menunggu memiliki banyak harta untuk mulai membantu.

Kepedulian sederhana yang dilakukan dengan ikhlas tetap dapat memberikan manfaat bagi orang lain.

Menyambut Muharram dengan Puasa dan Amal Kebaikan

Puasa Tasu'a merupakan puasa sunnah yang dilaksanakan pada tanggal 9 Muharram dan dianjurkan untuk dikerjakan bersama puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram.

Anjuran tersebut memiliki dasar dalam hadis Rasulullah SAW dan menjadi salah satu bentuk ibadah yang dapat dilakukan umat Islam pada bulan Muharram.

Meskipun memiliki hubungan erat, puasa Tasu'a dan Asyura tetap merupakan dua ibadah sunnah yang dapat dilaksanakan sesuai kemampuan.

Seseorang yang tidak sempat berpuasa Tasu'a tetap boleh menjalankan puasa Asyura dan mengharapkan keutamaannya.

Keistimewaan puasa Tasu'a bukan hanya terletak pada waktu pelaksanaannya, tetapi juga pada kesungguhan seseorang untuk mengikuti sunnah dan memperbaiki kualitas ibadahnya.

Melalui puasa sunnah, umat Islam diajak untuk melatih kesabaran, menjaga diri dari perbuatan buruk, dan memperbanyak rasa syukur.

Semangat tersebut juga dapat dilengkapi dengan kepedulian terhadap sesama melalui sedekah dan bantuan bagi masyarakat yang membutuhkan.

Mari manfaatkan bulan Muharram sebagai kesempatan untuk memperbanyak amal kebaikan, termasuk mendukung pendidikan dan kebutuhan hidup anak yatim serta dhuafa.

Semoga Allah SWT memberikan kemudahan kepada kita dalam menjalankan puasa Tasu'a dan Asyura, menerima setiap amal ibadah yang dilakukan, serta membimbing kita untuk menjadi pribadi yang lebih sabar, bersyukur, dan peduli terhadap sesama.


Copyright © 2019 - 2026 Pondok Yatim & Dhu'afa. All rights reserved.